Bergelut dengan malam dengan dingin menyelimuti, tapi terasa hangat dan manis denganmu. Padahal keringat baru kering membasahi, tak peduli juga mata yang memaksa menutup pintunya terlalu lemah berhadapan denganmu.

Genangan perkumpulan memperbincangkan sesuatu hal juga asik bila kamu temani, sehingga waktu menebas leher kami pun terasa nikmat. Entah mengapa hati ini juga tidak merasakan penyesalan sedikitpun.

Malam semakin larut, Kasiatmu mulai memudar, kata-katapun mulai habis dari lisan dan otak kami, ya otak kami, semoga saja! Semoga saja tidak keluar dari perut kami, karena sesuatu yang keluar dari perut busuklah baunya.

Hati ini mulai bergejolak ingin kembali pada kasur dan selimut. Mata saling pandang untuk mengakhiri pertemuan ini. Pertemuan tanpa keputusan, keputusan sebatas bersedia pulang sama-sama..

Iklan