Dari tanggal 20 kemarin masih membaca buah pikir teman-teman yang ada di wordpress. Ringan tapi berat, dibaca ringan banget dan mengalir tidak membuat ngantuk malah ada sebagian membuat ketawa, berat hikmahnya bikin angguk angguk kepala, sesekali ngelike dan komentar, walaupun komentarnya kadang tidak nyambung, tapi biar disambung-sambungin sendiri.

Hikmah yang bikin ngangguk-angguk kepala itupun tidak hanya aku dapati di blognya teman-teman yang ada disini, kalau boleh dibilang hikmah itu bertebaran mungkin seperti keindahan dan kebahagiaan yang tertulis didalam artikel Bunda Indira Abidin. mau bagaimana lagi sudah dituliskan.

QS. Shad 27 bondanmurdani.wordpress.com

Sore menjelang Ashar sekitar jam 14.15 saya tiba di salah satu sekolah elit di Surabaya disamping rel tepatnya. Membawa buku pesanan seorang Ustadzah, masih menunggu lama di lobby ruangan tertutup ber-AC dan bersih, menunggu dengan majalah sekolahnya tapi tidak saya baca karena ada dibawah meja, sungkan mau membaca karena diawasi mungkin ada cctv nya.

Sekitar 7 menit berlalu baru beliau turun dari kelasnya, dengan tersenyum dan mengucap salam, wajah yang sedikit keriput itu masih tampak segar bersemangat dalam menyampaikan kebaikan pada murid-muridnya.”Maaf mas Bondan menunggu lama.” Katanya. dan saya jawab saja “tidak apa-apa Bunda, ini berkasnya mohon ditanda tangani Bund.”Buku yang tempak berat itupun diperiksa, “beratnya berapa kilo mas?” tanyanya. “sekitar 19 Kg Bunda.” Jawabku. “Wih berat ya,” sambungnya.

“Mohon maaf Bunda, Bunda membawa kendaraan bisa langsung saya bawakan kekendaraannya?” Alternatifku.”kendaraannya nanti mas datangnya,” jawabnya. “Mungkin ditaruh sini saja Bunda nanti waktu pulang biar langsung bisa dibawa,” tambahan alternatifku.”Oh ndak mas, sebentar saya carikan tempat dulu yah,” ibuhnya. Ruangan yang menurutku cukup aman hanya untuk menaruh buku ini pun tidak dipakai oleh beliau untuk menaruh bukunya.

“Mas kalau saya taruh bukunya disini seperti saya belum mengikat onta, ya gak? belum maksimal ikhtiarnya,”Nasihatnya. Sayapun Menganggukkan kepala sambil berkata “injih Bunda.” Saya tanya lagi, ” ditaruh mana Bunda?”,”Biar saya bawa dilantas mas,”jawabnya. Waduh, kalau ini pilihan berat, sudah ibu-ibu lelah-lelah sore mau angkat buku 19 Kg keatas lagi (batinku). “Biar saya saja BUnda yang membawanya,” tanggapku. “Oh iya baik terimakasih mas Bondan,” sambungnya. Ya ya ya lantai atas berat juga ya buku 19 Kg.

Seseorang berkata kepada Nabi ShollAllahu ‘alaihi wa sallam“Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?” Nabi bersabda, “Ikatlah kemudian bertawakkallah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi )

Itu ceritaku kemarin sore, semoga menyadari hikmahnya ada dimana bagi para pembaca.

Iklan