Didalam rumah waktu itu, pagi masih gelap ditemani dengan beberapa ekor ayam yang meminta makan majikannya. Kegiatan dapur memang terasa sibuk setiap pagi, menyiapkan konsumsi untuk kegiatan hari ini, telur ayam kampung diceplok dengan taburan kecap manis, hemm terasa lezat. Persiapan yang tulus tanpa pamrih, bukan! bahkan lebih dari itu, ada cinta disini.

Secangkir kopi untukku sudah siap dimeja tamu, aku memang bangun dipagi gelap tapi sangat berat jika harus melanjutkan belajar atau melakukan beberapa pekerjaan rumah. Nasihat bagaimana kalau ibumu sudah tiada pun sering melayang ditelingaku gegara sering bermalasan di pagi buta.

Menurutku waktu itu, aku tidak terlalu malas karena beberapa hal aku kerjakan sendiri, walaupun kukerjakan dengan berat. Sehingga sekarang sudah ada yang namanya qoul jadid “saya dulu benar-benar malas”. Menyesal! Karena nasihat itu kutanggapi dengan pemahaman yang berbeda, seharusnya aku dulu berfikir bagaiman cara untuk lebih meringankan beban ibu.

Waktu masih pagi kopi masih hangat aromanya begitu nikmat, menyimpan beberapa memori kisahku dengan ibu dulu aku memanggilnya dengan sebutan Mamak. Beberapa masakannya yang sering disediakan telur dadar telur ceplok, dadar jagung, pecel, terancam, jangan tewel, iwak peyek, dll. Entah itu memori kesedihan atau memori kebahagiaan, tapi saya yakin Mamak menyediakan dengan rasa bahagia dan untuk bahagia.

Masih diwaktu pagi ditemani telur ceplok dengan kecap manis, nasinya begitu nikmat. Ketulusan dan kesabarnnya membuat kepala menunduk dan bilang Terima kasih Mamak, telah membesarkanku memberitahu aku tentang ketulusan, cinta dan kebenaran.

doa utuk ibu bapak

 

Iklan